Thursday, November 30, 2006

UFO

Unidentified Flying Object adalah misteri sepanjang zaman. Kemunculannya begitu fenomenal karena telah dicatat sejak ribuan tahun lalu.

Kala itu suku Indian Asteken yang mukim di Jazirah Meksiko, misalnya, telah menggambarkannya berikut awak yang berpakaian ala astronot. Profilnya tak jauh beda dengan yang diceritakan saksi-saksi dari abad 20-an. Ribuan tahun benda terbang tak dikenal ini dipelajari, selama itu pula tak ada hasil yang memuaskan.

Bagi para enjinir, contoh subyek yang sampai kini masih terus dikejar adalah kemampuannya menghilang dan manuverabilitasnya yang tinggi. Pakar aeronotik militer AS adalah yang paling gencar menelitinya. Terhitung sejak peristiwa jatuhnya UFO di Roswell, New Mexico, pada 1947, sejumlah proyek rahasia dibuat untuk menguak kehebatannya.

Amerika Serikat memang satu diantara segelintir negara yang memiliki kepedulian tinggi. Ini adalah sebuah kenyataan. Pasalnya, dua presiden pun sempat terlibat dengan sebuah proyek rahasia yang berkaitan dengan kehadiran makhluk asing ini. Mereka adalah Herry S. Truman dan Dwight D. Eisenhower, yang terlibat langsung dalam komite investigasi UFO bersandi Majestic Twelve. Subyeknya adalah beberapa tubuh mahkluk asing yang jatuh bersama pesawatnya di Roswell, New Mexico, pada 1947.

Meski dikatakan tak ada hasil, namun sesungguhnya telah bermunculan berbagai teori dan hipotesa yang berkaitan dengannya. Hipotesa tentang kemampuan menghilang dari pandangan mata dan manuverabilitasnya yang tinggi berikut ini, adalah betapa enjinir Indonesia juga tertarik untuk memperhatikannya.

Decoy system

Perihal kemampuannya menghilang dari pandangan mata sesungguhnya telah ditunjukkan dalam beberapa kesaksian. Dalam kaitan ini, UFO biasanya menampakkan diri pada waktu senja menjelang malam atau dinihari menjelang fajar. Menurut saya, ini adalah penampakan yang tak disengaja yang berbeda maknanya dengan penampakan di siang hari.

Dikatakan tak sengaja karena penampakkan pada senja dan dinihari umumnya tak lama. Kenyataan ini sebenarnya patut dipertanyakan mengingat jangan-jangan mereka memang selalu kesulitan mengoperasikan peralatan pengelabu (decoy system) pada kedua tenggang waktu tersebut. Hal ini dimungkinkan karena seperti kita rasakan pada kedua waktu itu ada perubahan kepadatan frekuensi cahaya Matahari. Senja menurun, pada dinihari kepadatannya meningkat.

Perubahan inilah yang memungkinkan peralatan pengelabu menjadi kacau untuk sementara waktu, dan akan kembali normal (pesawat kembali menghilang) setelah awaknya mencocokkan pada kepadatan frekuensi aktual. Teori atau hipotesa ini setidaknya membimbing kita pada dugaan bahwa jangan-jangan mereka sebenarnya ada di sekitar kita namun optik mata manusia tak bisa melihatnya.

Hipotesa ini setidaknya diperkuat dengan kenyataan bahwa pada siang hari mereka juga kerap menampakkan diri namun dalam waktu yang cukup lama. Apa artinya ini? Mengingat pada siang hari frekuensi cahaya cenderung tetap, penampakkannya tiada lain adalah untuk show of existense. Sebuah penampakan yang memang disengaja.

Di Bumi, teori pembiasan jati diri kira-kira bisa dijelaskan dengan kemampuan burung Tengkek Urang (King Fisher). Diantara burung-burung lain, hanya burung inilah yang memiliki kemampuan membaca gerak dan posisi ikan di dalam air. Ini artinya, di alam ini memang ada pengecualian dalam sistem penglihatan pada makhluk tertentu.

Hal lain adalah manuverabilitasnya yang tinggi. Dari sekian kesaksian, banyak yang mengatakan bahwa terkadang mereka berlama-lama memberi kesempatan untuk dilihat. Namun, ketika sudah diburu (dengan pesawat tempur, misalnya), mereka bisa dengan tiba-tiba melesat dengan pola gerak yang sulit untuk diikuti pesawat terbang yang paling canggih sekalipun. Seorang penerbang tempur TNI AU bahkan pernah mengungkap, pola gerak UFO yang tertangkap di radar pesawatnya benar-benar ajaib. Lintasannya lurus dan sesekali patah-patah dengan kecepatan yang luar biasa. Sepengetahuannya, belum pernah ada pesawat buatan manusia yang bisa melakukan ini.

Untuk itu, pesawat UFO harus memiliki WTR (Weight to Thrust Ratio) yang besar sekali. WTR bisa diartikan sebagai nisbah gaya dorong terhadap berat pesawat. Untuk manuver terkenalnya, Pugatchev Kobra, pesawat tempur Su-27 Flanker buatan Uni Soviet sekurang-kurangnya butuh WTR sebesar 2. Itu karena untuk menengadahkan hidung lalu menurunkannya dalam posisi terbang level, diperlukan gaya dorong konstran minimal dua kali berat pesawatnya.

WTR yang dimiliki UFO haruslah jauh lebih besar dari sekadar keunggulan mesin pendorong Su-27 ini. Namun, diluar itu, yang paling mengagumkan adalah bahwa UFO tak memiliki bentuk aerodinamis sebagaimana laiknya pesawat terbang yang memiliki sayap. Tanpa sayap, bagaimana ia bisa memperoleh gaya angkat (lift force) untuk melawan gravitasi? Satu-satunya penjelasan untuk kejanggalan ini adalah teori gasing. Kita tentu pernah melihat bahwa setelah diputar, meski tanpa sayap, benda ini bisa melompat-lompat ke udara. Putaran terhadap sumbu rotasinya telah menciptakan energi diri untuk melepaskan dari dari gravitasi.

Jika memang kemampuan gasing melekat padanya, pertanyaan selanjutnya adalah seberapa dahsyat mesin pendorong yang dimilikinya. Untuk mesin-mesin pesawat buatan manusia, biasanya berlaku persamaan bahwa besarnya gaya dorong adalah sama dengan kelipatan jumlah massa medium dengan perubahan kecepatan medium. Persamaan ini dibuat untuk menjelaskan andil udara (atmosfer) dalam proses pembakaran mesin.

Akan tetapi bagaimana dengan pesawat-pesawat antar-galaksi seperti UFO yang umumnya bekerja di ruang hampa? Nampaknya, untuk yang satu ini memang belum ditemukan jawaban yang memuaskan selain bahwa mesin yang disandangnya mestinya sudah jauh lebih canggih dari sekadar turbin gas. Bagi mereka, mesin tercanggih yang ada di Bumi sudah terlampau kadaluwarsa. (Kol. Ir. R. Drajad Budijanto, MBA)

Misteri Segitiga Bermuda

Hingga kini misteri Segi Tiga Bermuda masih belum terungkap.
Wilayah perairan berbentuk segi tiga yang menghubungkan tiga buah bandar-pantai Bermuda, Miami, dan Puerto Rico.

Disebabkan terdapat banyak pesawat dan kapal yang hilang menjdikan Segi Tiga Bermuda turut dikenali sebagai 'Devil's Triangle'.
Antara kejadian yang menjadikan Segi Tiga Bermuda dikenali sebagai tempat penuh misteri ialah berlakunya tempat kehilangan Flight 19 dan lima buah pesawat latihan milk Angkatan Tentera Amerika.

Sebelum kejadian pesawat tersebut meninggalkan Fort Lauderdale, Florida dengan 14 orang kru dan hilang ketika melintasi laut berkenaan. Apa yang lebih menghairankan ialah kapal terbang penyelamat yang dihantar untuk mencari mangsa nahas tersebut juga tidak dapat dikesan!

Selain itu, pesawat lain yang hilang ialah pesawat DC-3 yang membawa 27 orang penumpang pada tahun 1948 dan pesawat C-124 Globmaster bersama 53 orang penumpang pada tahun 1951. Sebuah kapal tangki Marine Sulphur Queen pula di laporkan hilang pada tahun 1963 dan kapal nuklear Scorpion hilang bersama 99 orang krewnya pada tahun 1968 dan banyak lagi.

Terdapat banyak buku-buku, artikel dan rancangan televisyen yang sehingga kini masih membuat liputan tentang Segi Tiga Bermuda yang dianggap sebagai satu misteri dan Kontroversi yang masih tidak berpenghujung. Dalam pada itu ada juga individu yang menganggap setiap kejadian yang berlaku adalah secara kebetulan sahaja.

Pada tahun 1991 sekumpulan pengkaji memulakan kajian mereka terhadap misteri kehilangan kapal di Segi Tiga Bermuda ini dan mereka mengumumkan telah menemui serpihan kapal terbang Flight 19 dan lima buah kapal lain yang hilang selepas itu. Walau bagaimanapun sehingga kini kebenarannya masih belum dapat dipastikan. Dalam pada itu, terdapat banyak teori berkenaan misteri Segi Tiga Bermuda dan ada antaranya sukar untuk dipercayai.

TEORI PERTAMA
Terdapat satu wilayah tertentu di Segi Tiga Bermuda yang mempunyai medan magnet bumi yang sangat kuat sehingga boleh menyebabkan peralatan komunikasi, kompas dan sebagainya tidak berfungsi. Kekuatan magnet tersebut juga dikatakan boleh menarik kapal terbang dan kapal laut yang diperbuat daripada logam.

TEORI KEDUA
Ada teori yang dibuat mengatakan di kawasan Segi Tiga Bermuda terdapat ruang yang membawa perubahan dari dimensi ruang ke dimensi waktu. Jadi kapal-kapal tersebut sebenarnya tidak hilang, sebaliknya ia dilontarkan ke ruang waktu yang lain sama ada ke masa lalu atau masa akan datang. Memang pelik dan sukar untuk dipercayai.

TEORI KETIGA
Lebih rumit ialah ada yang mengatakan di dasar laut Segi Tiga Bermuda tersebut terdapat tempat tinggal makhluk asing. Jadi merekalah yang menculik kapal-kapal yang hilang dulu.

TEORI KEEMPAT
Ada yang mengatakan setiap pesawat dan kapal yang hilang diculik oleh manusia dari benua Atlantis. Bumi Atlantis ialah benua yang tenggelam di zaman prasejarah

The Search Begin

Are we alone?

For centuries, human beings have pondered this question. Medieval scholars speculated that other worlds must exist and that some would harbor other forms of life.

In our time, advances in science and technology have brought us to the threshold of finding an answer to this timeless question.

The recent discovery of numerous planets around stars other than the Sun confirms that our solar system is not unique. Indeed, these "extrasolar planets" appear to be common in our galactic neighborhood.

The extrasolar planets we have discovered thus far are giants, like Jupiter and Saturn. They are unlikely to support life as we know it. But some of these planetary systems might also contain smaller, terrestrial planets like Mars and Earth.

Over the next 15 years, NASA is embarking on a bold series of missions to find and characterize new worlds. These will be the most sensitive instruments ever built, capable of reaching beyond the bounds of our own solar system.


Artist's concept of the Terrestrial Planet Finder observatories

The Keck Interferometer will combine the light of the world's largest optical telescopes, extending our vision to new distances.

Using a technique known as interferometry, the Keck will study dust clouds around stars where planets may be forming. It may also provide the first direct images of giant planets outside our solar system.

SIM PlanetQuest, scheduled for launch within the next decade, will measure the distances and positions of stars with unprecedented accuracy. SIM's precision will allow us to detect evidence of planets just slightly larger than Earth.

Finally, the Terrestrial Planet Finder will build upon the legacy of all that have gone before it. With an imaging power 100 times greater than the Hubble Space Telescope, Terrestrial Planet Finder will send back the first photographs of nearby planetary systems.


Artist's concept of an Earth-like planet

We will analyze the atmospheres of these distant worlds, looking for carbon dioxide, water and ozone. The substantial presence of all three gasses would suggest that life is present.

Such a discovery would at last provide convincing evidence that we are not alone.

We will have found another Earth.

Saturday, November 25, 2006

THE 4th 50% BOOK EVENT

Dalam rangka HUT Perpustakaan Pendidikan Nasional ke-2

Perpustakaan Pendidikan Nasional
bekerjasama dengan
Komunitas Pekerja Buku Indonesia
untuk yang keempat kalinyamenyelenggarakan:
-----------------------------------------------------
5 0 % B O O K E V E N T : The 4th
gelar semua buku diskon limapuluh persen
-----------------------------------------------------

Jum'at, 24 November s.d. Sabtu, 2 Desember 2006
Jam 10.00 s.d. 19.00 wib (9 hari, Minggu juga buka)

Perpustakaan Pendidikan Nasional
Plasa Gedung A Komplek Depdiknas RI
Jl. Jenderal Sudirman Senayan
Jakarta Pusat (samping Pertokoan Ratu Plasa)

untuk informasi pameran dapat menghubungi:
Komunitas Pekerja Buku Indonesia: 021- 70 123 026
untuk informasi acara dapat menghubungi:
Forum Indonesia Membaca: 021- 700 300 93

Friday, November 24, 2006

Cinta Pertama

Produced by Ody Mulya Hidayat
Directed by Nayato Fio Nuala
Written by Titien Wattimena

Genre: Drama
Rating: Semua Umur / Remaja
Country: Indonesia
Language: Indonesia
Color: Black and White / Color

C a s t
Bunga Citra Lestari … Alia
Ben Joshua .... Sany
Richard Kevin .... Abi

Reminisce the good old days. Love at first sight, first love, and true love. Tonton film ini untuk mengingat kembali pengalaman cinta pertama kita masing-masing di masa lalu. Menyentuh, menggugah,dan menggoyahkan iman kita akan 'cinta'. Mempertanyakan bentuk dari cinta itu, dan apakah cinta yang sebenarnya. Cinta Pertama, film karya Nayato Fio Nuala ini bakal menggebrak bioskop-bioskop Indonesia dengan tema cinta, 7 Desember mendatang. Disaat orang berburu hantu dengan film-film horor lokal dan luar, Cinta Pertama hadir membangunkan memori-memori yang sudah lama tersimpan rapat di dalam hati kita.

Ketika Cinta Pertama Terpendam Hingga Akhir Hayat

Seharusnya, di hari menjelang pernikahan adalah saat yang paling membahagiakan. Tapi di saat yang berbahagia itu, justru Abi (Richard Kevin) malah menemukan rahasia tentang perasaan yang paling dalam dari calon istrinya, Alia (Bunga Citra Lestari).

Setelah pesta pertunangan mereka, Abi menemukan Alia yang tidak sadarkan diri di teras rumahnya. Alia menderita kanker otak. Sejak itu, Alia tergeletak koma di rumah sakit. Di saat-saat koma itulah, Abi menemukan buku harian Alia dan di sana ia menemukan rahasia besar tentang cinta Alia......

Diam-diam rupanya Alia pernah mencintai teman satu sekolahnya yang bernama Sany (Ben Joshua). Tetapi Alia tidak pernah bisa mengungkapkannya pada Sany, walau pun perasaannya sudah begitu mendalam.

Lulus sekolah, mereka harus berpisah. Dan, Alia tidak juga bisa mengungkapkan cintanya kepada Sany. Alia membiarkan cinta pertamanya ini terpendam jauh di lubuk hatinya yang paling dalam. Untuk selama-lamanya…

Bagaimana perasaan Abi setelah membaca seluruh isi buku harian Alia? Bagaimana perasaan Sany setelah mengetahui bahwa ternyata Alia memiliki cinta yang mendalam kepadanya?

Editor's Tilt:

A real tear jerker! Semua orang yang nonton ini pasti nangis [setidaknya terenyuh]. Filmnya mengharu-biru sekali. Saya yang datangnya telat [thanks to Jakarta’s own traffic jam] dan nonton dari pertengahan saja habis satu pak tisu. Dua wartawan perempuan yang duduk di sebelah saya juga nangis tersedu-sedu, sampai seorang wartawan pria di sebelah kiri saya keki dibuatnya. [maaf ya kalo tangisan kita mengganggu Anda :P]. Yah, intinya it’s a really sad movie. So, prepare for packs of tissue kalo mau nonton ini film tanggal 7 Desember nanti.

Secara pribadi, saya dibuat terpersona oleh aliran kata-kata penuh makna yang dibuat sang penulis [Titien Wattimena. You rock!]. Dialognya yang indah, polos dan romantis. Scoring music yang perfect [thanks to Addie MS], pengadeganan yang indah [too much kapas though], film ini betul-betul mampu membawa kita pergi dari dunia ‘dewasa’ dan sekali lagi mengingat kisah-kisah sedih [sekaligus senang] di masa SMA dengan cinta pertama kita masing-masing.

Ya, selain bikin nangis, film ini juga sukses membangkitkan memori-memori masa SMA saya, tentang pahit manisnya mencintai seseorang untuk pertama kalinya. It’s a really nice movie to watch. Soo, touching.


Fave Line:

[Alia]
Aku merasa ada yang hilang…
Tanpa tahu apa yang sudah aku temukan
Aku merasa menemukan
Tanpa tahu apa yang aku cari
Dan akuseperti masih mencari
Tanpa tahu apa yang sudah hilang

Setiap manusia memiliki ruang kosong di hatinya,
Ketika seseorang datang...
Dan kita berpikir bahwa dia mengisi ruang kosong itu
Sebenarnya ia hanya berdiri di depan pintu dan menyamarkan ruang kosong itu
Ruang kosong di hati kita tetap ada
Dan tidak akan pernah benar-benar terisi

[Alia kepada Sany di hari kelulusan]
selalu ada tempat kok buat lo…

Koi’s Fave Scene:

Ketika Abi mendatangi rumah Sany yang ternyata sudah beristri [istrinya cantik banget lagi!]

editor by koi